Foto Dokumentasi

Preview
Preview
Preview
Preview
Preview

Lima Juta Warga Indonesia Rawan Kena Tsunami

TEMPO.CO, Jakarta- Kepala Pusat Data Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan setidaknya lima juta warga Indonesia tinggal di daerah yang berisiko terpapar bencana tsunami. “Itu jumlah tertinggi di dunia,” kata Sutopo di Jakarta, Selasa, 5 Juni 2012.

Menurut data BNPB, daerah yang paling rawan terkena tsunami berturut-turut adalah Jawa Tengah, Nangroe Aceh Darussalam, Sulawesi Selatan, Bali, serta Banten. Di Jawa Tengah sendiri setidaknya ada 950 ribu warga yang berisiko terpapar tsunami, paling tinggi dibanding provinsi lain.

Sutopo mengatakan BNPB telah berupaya memberi sosialisasi kepada warga yang berisiko terkena tsunami. Tapi ia mengakui hasil sosialisasi belum memuaskan. Contoh terkini adalah antisipasi warga saat terjadi gempa di Aceh April lalu. “Sebesar 70 persen warga dievakuasi menggunakan kendaraan pribadi. Jalanan jadi macet,” katanya.

Sutopo menjelaskan, ada delapan bencana alam yang mengancam Indonesia antara lain gempa bumi, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi. Bencana gempa bumi misalnya membuat 95,7 persen dari total 227,4 juta penduduk Indonesia berisiko terkena gempa.

Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI), sepanjang sejarah Indonesia sejak 1815 hingga 2011 telah terjadi 11.910 kejadian bencana yang mengakibatkan 329.585 orang meninggal dunia dan hilang. Dari seluruh bencana tersebut, 77 persen tergolong bencana hidrometeorologi, 3 persen bencana geologi, dan 9 persen bencana hidrologi.
12:15 AM | 0 comments | Read More

Cilacap Ranking 3 Nasional Potensi Bahaya Tsunami

TEMPO.CO, Cilacap - Idealnya Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, mempunyai 18 unit alat peringatan dini tsunami. Namun kenyataannya saat ini Cilacap hanya memiliki enam unit alat tersebut.

“Padahal Cilacap masuk dalam peta risiko sangat tinggi bencana tsunami,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Derah Kabupaten Cilacap, Wasi Aryadi
Wasi mengatakan jumlah tersebut masih jauh dari ideal. Menurutnya, untuk mitigasi bencana tsunami hendaknya ditambah minimal 12 unit peringatan dini lainnya.

Menurut dia, Cilacap merupakan salah satu wilayah yang paling berisiko terkena tsunami. Selain Cilacap, daerah lainnya di pesisir Samudera Indonesia yakni Banten dan Pacitan.

Ia menambahkan, saat ini enam unit peringatan dini tsunami tersebut terpasang di Pantai Cilacap dan di Pantai Widarapayung. Idealnya, kata dia, alat peringatan dini dipasang di sepanjang pantai Cilacap yang memiliki panjang 103 kilometer.

Dari panjang 103 kilometer itu 50 kilometer di antaranya dihuni oleh penduduk yang cukup padat. Dengan alat tersebut diharapkan bisa meminimalkan korban jika terjadi tsunami.

Masih menurut Wasi, belum lengkapnya alat disebabkan oleh keterbatasan anggaran. Tahun ini APBD Kabupaten Cilacap akan mengalokasikan dana pengadaan satu alat peringatan dini dan akan ada bantuan dari BMKG pusat satu unit. Alat tersebut biasanya dilengkapi dengan sirine, pengeras suara, dan bangunan gardu.

Muhammad Ikbal, penjaga pantai di Widarapayung, mengatakan, selain alat peringatan dini, seharusnya pemerintah rajin memberikan sosialiasi kepada warga. “Apa yang harus dilakukan warga saat mendengar sirine tsunami juga harus disosialisasikan,” katanya.

Ia menyebutkan saat tsunami tahun 2006 lalu warga Widarapayung paling banyak meninggal dunia dibandingkan dengan daerah lain. Pantainya yang landai membuat gelombang tsunami sangat cepat mencapai daratan. Apalagi di Widarapayung tidak ada pulau semacam Nusakambangan yang bisa melindungi pantai dari terjangan gelombang tsunami.
12:14 AM | 0 comments | Read More

Kenali Tanda Tanda Tsunami

Kenali Tanda Tanda Tsunami
Apabila Terjadi Tsunami Dalam menyelamatkan diri dari tsunami kita berpacu dengan waktu. 

Kecepatan tsunamidapat mencapai 100 km sehingga kita tidak akan sempat lari bila tsunami sudah terlihat.Ada kalanya tsunami tiba sebelum peringatan kita terima.

Kenalilah dengan baik tanda-tanda akan datangnya tsunami yaitu sebagai berikut.
a. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
b. Terciumnya bau garam atau bau amis yang menyengat secara tiba-tiba.
c. Munculnya buih-buih air yang sangat banyak secara tiba-tiba..
d. Terdengar suara ledakan keras seperti suara pesawat jet atau pesawat atau suara ledakan bom runtuh.
e. Terlihat gelombang hitam tebal memanjang di garis cakrawala.

Jika anda melihat salah satu atau beberapa dari tanda tersebut lakukanlah hal-hal sebagai berikut:
a. Apabila anda berada di atas kapal di tengah laut, segera pacu kapal anda kearah laut yang lebih dalam.
b. Dan apabila anda sedang berada di pantai atau dekat pantai, segera panjatbangunan ataupohon yang tinggi. Pada saat berlindung ingatlah untuk mencari tempat yang lebihtinggi danbukan yang lebih jauh. Ingat waktu kita untuk berlalri dari kejaran gelombangtsunami hanyakurang dari 20 menit.

c. Bila tsunami datang dengan cepat sehingga tidak sempat untuk berlindung,usahakanuntuk berlari ke bangunan yang kuat dengan ketinggian lebih dari 3 lantai.
d. Jangan lengah meskipun guncangan kecil. Getaran gempa yang dapat kita rasakanberbeda antargetaran seismik dengan magnitude (skala richter). Meskipun getaranyangdirasakan kecil, tapi tidak menjamin tsunami yang terjadi akan kecil pula. Bilagetaran lemahdalam waktu yang panjang, jangan lengah dan segeralah berlindung.
e. Jangan sekali-kali mendekat ke arah pantai sampai peringatan bahaya dicabut.Sering kalitsunami datang dalam 2 atau 3 gelombang dan ada kalanya yang ke-2 dan ke-3 lebihbesardari yang pertama. Jangan lengah setelah gelombang pertama
.f. Mencari informasi yang tepat dan benar melalui radio, televisi dan sebagainya.Yang paling penting adalah tetap bersikap tenang.

SUMBER :
1. Badan Meterologi dan Geofsica (BMG) http://www.bmg.go.id/antisipasi.asp
2. Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS)
3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)





12:14 AM | 0 comments | Read More

Tsunami Warning Alarm System

Tsunami Warning Alarm System - Alat Deteksi Tsunami
Ikut berpartisipasi dalam penanggulangan bencana Tsunami yang akhir-akhir ini menjadi momok yang cukup menakutkan. Tidak hanya kita yang tinggal di Indonesia, akan tetapi ancamam bencana Tsunami sudah merupakan suatu hal yang menakutkan bahkan negara-negara yang notabene adalah negara maju seperti Jepang contohnya. Daerah pesisir pantai tentu dengan potensi bahaya jauh lebih besar dibandingkan mereka yang notabene tinggal di daerah pemukiman dataran tinggi.

Khususnya wilayah terpencil pesisir pantai atau daerah yang berpotensi tsunami tapi belum memiliki Tsunami Warning Alarm System. Tergerak dengan kondisi demikian, kami ciptakan Tsunami Warning Alarm System yaitu Alat Deteksi Tsunami

Tsunami Warning Alarm System ini merupakan ciptaan kami sendiri dan tentu saja belum pernah di uji coba pada kondisi yang sebenarnya. Akan tetapi kami Sangat Optimis Alat Deteksi Tsunami ciptaan kami ini dapat bekerja sebagaimana mestinya dan dapat memberikan peringatan dini apabila akan terjadi bencana Tsunami.

Kami juga melakukan silmulasi dan sudah kami tes di kediaman kami, simulasi kolam air dan diletakan Alat Deteksi Tsunami, ada pula seperangkat alat monitoring darat berikut toa sebagai sirine peringatan.
[foto dokumentasi]

Harapannya Alat Deteksi Tsunami ciptaan kami ini bisa bekerja sebagaimana semestinya dan dapat memberikan sistem peringatan dini terhadap bencana Tsunami yang setiap saat bisa mengancam kita.


11:32 PM | 0 comments | Read More

Gempa di Kebumen

Gempa di Kebumen
Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan telah terjadi gempa bumi berkekuatan 6,5 SR di 104 km barat daya Kebumen, Jawa Tengah atau 147 km Barat Daya Yogyakarta pada Sabtu pukul 12.14 WIB.

Gempa terjadi di 104 km barat daya
Kebumen, dengan lokasi di 8,48 LS-109,17 BT. Kedalaman gempa 48 km. Tidak berpotensi tsunami.

"Pusat kedalaman gempa di Samudera Hindia pada kedalaman 48 km. Pusat
Gempa di Kebumen berada di bagian dalam lempeng Eurasia di luar zona subduksi lempeng Hindia Australia-Eurasia. Tidak ada potensi tsunami," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keteranga tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Sabtu (25/1/2014).

Berdasarkan data Badan Geologi Amerika Serikat (USGS) maksimum guncangan gempa berintensitas VI MMI (kuat) yang dirasakan di sepanjang pantai selatan mulai dari
Cilacap, Kebumen hingga Purworejo. Lindu terasa di kota lain, seperti Yogyakarta, Solo, Boyolali, Klaten, Magelang, Sragen, Semarang, Bandung, dan Jakarta. "Umumnya dampak gempa dengan intensitas VI MMI ada bangunan-bangunan yang rusak. Gempa di Kebumen juga dirasakan di Cilacap Yogyakarta, Solo, Boyolali, Klaten, Magelang, Sragen hingga Semarang," jelas Sutopo.

Posko BNPB telah mengonfirmasi BPBD-BPBD di daerah terdekat pusat
Gempa di Kebumen
Di Purworejo gempa dirasakan sangat keras selama sekitar 30 detik. Satu rumah roboh dan beberapa rusak di Desa Krandegan, Kecamatan Bacan, Purworejo. Masyarakat berhamburan keluar rumah dan kantor. BPBD Purworejo masih melakukan pendataan.

"BPBD
Cilacap telah melakukan pengecekan daerah-daerah di selatan dan timur Cilacap. Gempa di Kebumen  dirasakan sekitar 30 detik. Masyarakat berhamburan keluar rumah. Belum ada laporan kerusakan."

Gempa di Kebumen dirasakan sangat kuat selama sekitar 20 detik. Warga berhamburan keluar rumah dan perkantoran. Belum ada laporan kerusakan bangunan.

"Di semua kabupaten atau kota di Yogyakarta dilaporkan melaporkan guncangan keras selama sekitar 10 detik. Perabotan rumah (kulkas) bergeser dari posisinya. Masyarakat berhamburan keluar rumah dan bangunan. Belum ada laporan korban jiwa. Update akan disampaikan berikutnya," tandas Sutopo.

[sumber liputan6.com]
9:56 PM | 0 comments | Read More

Banyuwangi Bangun Shelter Tsunami

TEMPO.CO, Banyuwangi - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Achmad Wiyono, mengatakan tahun ini pihaknya akan membangun tempat pengungsian (shelter) tsunami di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Menurut Wiyono, anggaran pendirian shelter berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar Rp 10,7 miliar. "Lokasinya kita pilih di daerah perbukitan," kata dia kepada wartawan, Rabu, 10 April 2013.

Dusun Pancer dipilih karena korban jiwa akibat tsunami 2 Juni 1999 lalu di daerah itu paling besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Pancer berdekatan dengan laut selatan, jaraknya sekitar 80 kilometer arah selatan Kota Banyuwangi.

Menurut Wiyono, shelter dibangun dengan kualitas tahan gempa dan didesain dapat menampung sekitar 2.000 jiwa. Penduduk Dusun Pancer sendiri berjumlah 2.500 jiwa.

Tak hanya itu, shelter juga dilengkapi sistem peringatan dini tsunami. Sehingga bila sistem peringatan dini berbunyi, warga bisa segera menyelamatkan diri menuju shelter. Selain Pancer, kata Wiyono, daerah rawan tsunami tersebar di 40 desa. Desa-desa itu berada di sepanjang 175 kilometer garis Pantai Banyuwangi.
1:05 AM | 0 comments | Read More