Foto Dokumentasi

Preview
Preview
Preview
Preview
Preview

Banyuwangi Bangun Shelter Tsunami

TEMPO.CO, Banyuwangi - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Achmad Wiyono, mengatakan tahun ini pihaknya akan membangun tempat pengungsian (shelter) tsunami di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran. Menurut Wiyono, anggaran pendirian shelter berasal dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana sebesar Rp 10,7 miliar. "Lokasinya kita pilih di daerah perbukitan," kata dia kepada wartawan, Rabu, 10 April 2013.

Dusun Pancer dipilih karena korban jiwa akibat tsunami 2 Juni 1999 lalu di daerah itu paling besar dibandingkan dengan daerah lainnya. Pancer berdekatan dengan laut selatan, jaraknya sekitar 80 kilometer arah selatan Kota Banyuwangi.

Menurut Wiyono, shelter dibangun dengan kualitas tahan gempa dan didesain dapat menampung sekitar 2.000 jiwa. Penduduk Dusun Pancer sendiri berjumlah 2.500 jiwa.

Tak hanya itu, shelter juga dilengkapi sistem peringatan dini tsunami. Sehingga bila sistem peringatan dini berbunyi, warga bisa segera menyelamatkan diri menuju shelter. Selain Pancer, kata Wiyono, daerah rawan tsunami tersebar di 40 desa. Desa-desa itu berada di sepanjang 175 kilometer garis Pantai Banyuwangi.
1:05 AM | 0 comments | Read More

Sirine Palsu, 300 Warga Lari ke Bukit

TEMPO.CO, Tulungagung-- Sebanyak 300 warga di pesisir Pantai Sine Tulungagung bertahan tinggal di lereng bukit. Mereka menjadi korban sirine yang dipasang Badan Penanggulangan Bencana Daerah yang tiba-tiba berbunyi.

Sejak enam hari lalu warga di Dusun Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung ini tinggal di tenda pengungsian di lereng bukit sejauh tiga kilometer dari kampung mereka. Warga yang sebagian besar nelayan ini mengaku takut kembali ke rumah akibat sirine yang dipasang pemerintah daerah tiba-tiba berbunyi, Jumat, 14 Desember 2012 lalu. Sirine itu merupakan bagian dari peralatan early warning tsunami yang terpasang di sekitar perairan pantai selatan Sine.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung Agus Purwanto mengatakan kepanikan warga ini akibat kesalahan teknis sirine yang tiba-tiba berbunyi. Meski tidak ada gempa yang terjadi, sirine itu berbunyi sangat kencang dan menimbulkan kepanikan. "Padahal tidak terjadi apa-apa," katanya, Kamis, 20 Desember 2012 saat menemui pengungsi untuk meminta pulang ke rumah.

Namun apa lacur, warga yang trauma dengan bencana tsunami di Aceh memutuskan tetap bertahan di lereng bukit. Hingga hari ini mereka rela hilir mudik ke laut untuk menangkap ikan di siang hari dan kembali ke pengungsian menjelang malam. Bersama keluarga dan kerabat, warga pesisir ini tinggal di tenda terpal milik Puskopad Kodam V/Brawijaya.

Suwarti, salah satu pengungsi mengatakan sebenarnya beberapa warga sudah berinisiatif turun beberapa hari lalu. Namun mereka kembali berlarian ke lereng setelah merasakan gempa yang cukup besar yang terjadi di Pacitan. "Kalau ada tsunami, siapa yang tanggung jawab," katanya dengan yakin.

Keputusan mengungsi ini bukan tanpa sebab. Sepekan sebelumnya, warga di pesisir Pantai Sine yang memang disinyalir rawan tsunami mengikuti simulasi penanganan bencana yang diselenggarakan BPBD setempat. Dalam simulasi itu mereka dilatih skenario penyelamatan diri dengan mengungsi ke tempat tinggi dan mendirikan tenda.

Alhasil, pelatihan itu benar-benar berhasil. Ketika empat hari usai pelatihan sirene tsunami tiba-tiba berbunyi, mereka dengan serentak menerapkan pelatihan itu. Meski telah berulang kali dibujuk agar pulang ke kampung dan menjelaskan jika terjadi kesalahan teknis, mereka tetap bertahan. Kini petugas BPBD yang kebingungan mengatasi dampak pelatihan tersebut.
12:53 AM | 0 comments | Read More

Tsunami Senyap Ancam Pesisir Selatan Jawa

TEMPO.CO, Yogyakarta - Kawasan pesisir selatan Jawa paling potensial menjadi sasaran tsunami senyap (slow earthquake tsunami). “Karena zona pertemuan lempeng Eurasia dan Indo Australia punya karakter curam, sangat dalam, dan ada sedimen lunak di bawah lempeng,” ujar Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardiatno, seusai diskusi pengurangan risiko tsunami di UGM, Kamis, 10 Januari 2013.

Menurut dia, karakter ini memperbesar potensi tsunami senyap karena pergeseran lempeng dengan dentuman besar berlangsung lambat akibat tertahan sedimen lunak. “Inilah yang menyebabkan getaran gempa tak begitu terasa di pesisir, seperti tsunami Pangandaran pada 2006,” ujar Djati.

Meski demikian, efek tsunaminya bisa lebih besar dari perkiraan karena pertemuan dengan sedimen lunak mengakumulasi getaran. “Contohnya, di Pangandaran riset pemodelan tsunami hanya menunjukkan tinggi ombak 3,5 meter tapi faktanya bisa sampai 10 meter,” ujar Djati.

Djati mengatakan skema mitigasi tsunami di pesisir selatan Jawa lebih kompleks dibanding di pesisir selatan dan barat Sumatera. Di perairan selatan dan barat, Sumatra hanya berpotensi tsunami cepat yang didahului gempa besar dalam waktu singkat. “Identifikasinya pasti mudah, ada getaran gempa besar dan air laut tiba-tiba surut,” kata Djati.

Menurut dia, riset pascatsunami Pangandaran menyebutkan mayoritas warga tak merasakan ada getaran dan tak melihat air surut dengan cepat. Indikasi kemunculan tsunami senyap bisa terdeteksi justru muncul lewat suara mirip drum band atau rombongan truk. “Tantangannya ialah pemetaan secara lengkap potensi tsunami seperti ini yang memiliki karakter berbeda di kawasan pesisir selatan Jawa,” ujar dia.

Oleh sebab itu, katanya, kajian lengkap pemetaan potensi tsunami senyap di laut selatan Jawa perlu segera dilakukan. “Kajian ini salah satu yang belum ada di master plan pengurangan risiko bencana tsunami yang diterbitkan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) pada Juni 2012 lalu,” ujar Djati.

Anggota Dewan Pengarah BNPB, Profesor Sudibyakto, yang hadir pada forum itu mengatakan waktu penyusunan master plan mitigasi tsunami terbitan BNPB terlalu singkat.
12:50 AM | 0 comments | Read More